Shalat Tarawih Menurut Al-Quran dan Hadits

Perintah Menjalankan Shalat



Alhamdulillah… 
Dengan selalu mengingat nama    kita senantiasa mampu bersyukur atas segala nikmat yang banyak, atas segala hidayah dari pertolongannya, atas segala rizky-Nya yang luas, yang telah       berikan kepada kita, semoga akhir hidup kita selalu istiqomah diatas jalanNya dan taat kepadaNya dalam menjalankan Agama Islam. Aamiin. Dan semoga tetap tercurah atas baginda Rasulullah     para keluargaNya, sahabatNya dan semua pengikutNya diatas Sunnah Rasulullah     . 

Hari yang cerah diawal bulan Ramadhan 1439 H. Di awal puasa ke delapan ini, semoga kita diberikan kekuatan untuk dapat menjalankan perintah    Rabbul Alamin. Dengan kita terus mempelajari Sunnah – sunnah Rasulullah    dengan penuh cinta, dengan penuh ketaatan untuk mengharapkan ampunan yang seluas – luasnya, dan pahala disisi    semoga dapat menjadikan timbangan kita kelak penuh kebaikan untuk mendapatkan Surga-Nya.  Aamiin Ya Rabbal Alamin…

Pada pertemuan ini, kita masih melanjutkan Bab Puasa, yaitu tentang “Shalat Tarawih sesuai Al-Quran dan Hadits”.

Tarawih memiliki pengertian upaya untuk mendirikan Shalat malam secara berjama’ah (bersama-sama) di bulan Ramadhan.  Dan waktu pelaksanaanya adalah selesai menjalankan shalat isya’ sampai tiba pada waktu mendekati fajar.

Rasulullah     menyuruh kita untuk menunaikan shalat ini, yaitu shalat Tarawih di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda-Nya :

Perintah mendirikan Shalat Malam di Bulan Ramadhan

Dalam hadits riwayat Shahih Imam Bukhari, dari jalur Aisyah, juga meriwayatkan bahwa : “Nabi   ﷺ   mendirikan shalat malam, pada suatu malam di masjid dan mengimami orang-orang shalat”. Dan pada hari esok kemudian, orang-orang berkumpul pada malam berikutnya semakin banyak. Dan pada suatu malam, yaitu pada malam ketiga dan malam keempat namun Rasulullah    ﷺ  tidak kunjung keluar untuk mengimami mereka. Dan pada keesokan harinya Rasulullah    ﷺ  berkata :


Hadits Shahih Mengenai Shalat Tarawih

Untuk anjuran melakukan shalat terawih ini Sunnahnya adalah membatasi shalat malam sebanyak sebelas raka’at (bilangannya), dan melakukan gerakan salam setiap mendapatkan dua raka’at. Hal ini, karena Aisyah radhiallahu anha waktu ditanyai mengenai bagaimana Rasulullah     melakukan shalat pada bulan Ramadhan, dan dia menjawab :

Hadits Shahih tentang jumlah bilangan Shalat malam
    
Di dalam suatu kitab yang bernama Muwatta, Muhammad bin Yusuf dan beliau adalah salah satu tsiqah, juga meriwayatkan dari Sa’id bin Yazid dan beliau adalah salah satu sahabat, bahwa Khalifah Umar radhiallahu anhu telah memberi perintah kepada sahabat Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk memulai dan memimpin orang-orang shalat sebelas raka’at di waktu itu.  15 (Muwatha Imam Malik. Kitab Shalat 1/110 “280”)



Dan apabila seseorang memilih untuk melakukan shalat malam melebihi bilangan sebelas raka’at, maka hal ini tidak mengapa karena Nabi       suatu ketika untuk ditanyai mengenai jumlah bilangan shalat malam, beliau menjawab :


Hadits Shahih tentang Shalat Malam

Dari penjelasan diatas, untuk menjaga dan melaksanakan perintah shalat malam ini, serta berpegang kepada jumlah (bilangan rakaat) yang disebutkan dalam Sunnah, jika seseorang sedang melaksanakan shalat malam ini, dengan perlahan dan memanjangkannya, yang terpenting tidak membebani orang-orang dalam melaksanakan shalat ini adalah lebih baik dan lebih sempurna. 


Dan biasanya kebanyakan dari kita seringnya melaksanakan perintah Shalat dalam keadaan tergesa-gesa dan ingin cepat selesai. Adapun dalam keadaan tegesa-gesa dalam Shalat itu adalah suatu perkara yang berlebih-lebihan, dan hal itu menyalahi dari apa yang telah ditentukan dalam syariat agama ini. Shalat yang dilakukannya akan meninggalkan salah satu dari beberapa kewajiban atau rukun / syarat sah-Nya Shalat, dengan hal ini dapat menjadikan Shalatnya seseorang menjadi batal.


Disebutkan dalam kitab ini, banyak dari kalangan para imam yang memimpin Shalat Jamah, kurang memanfaatkan waktu dalam memimpin shalat Tarawih, dan ini adalah suatu keadaan dari kekurangannya. Sebenarnya bahwa dirinya adalah disamping memimpin dirinya sendiri juga memimpin orang lain. Pemimpin disini ia di wajibkan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan paling sesuai dengan syariat. Para ulama telah menyatakan bahwa dibencinya seorang imam dikala ia melakukan shalat dalam keadaan tergesa-gesa, sampai dimana keadaan orang-orang mengikutinya dalam shalat tidak dapat melakukan gerakan wajib yang seharusnya dapat dilakukannya.


Seseorang harus menjaga dalam mendirikan Shalat Tarawih dan tidak menyia-nyiakannya, karena telah disampaikan bahwa barangsiapa yang melaksanakan shalat malam (isya ataupun tarawih) bersama imam sampai selesai, sesungguhnya dirinya telah dianggap melakukan shalat semalam suntup meskipun setelahnya seseorang itu tidur selesai melaksanakan shalat.


Sedangkan bagi wanita,  tidak mengapa dirinya menghadiri shalat (tarawih) jika seseorang itu dapat menjaga dirinya dari fitnah, dan disyariatkan dirinya untuk menutup hijabnya saat mulai keluar dari rumahnya dalam perjalanan menuju ke tempat ibadah (masjid), dan tidak diperkenankan menampakkan sedikitpun perhiasan yang ia pakai, dan lebih-lebih tidak diperbolehkannya memakai wewangian atau parfum yang dapat menjadikan kaum lelaki dapat meningkatkan syahwatnya, karena hal ini jelas-jelas dilarang oleh syariat islam.




Allahu A’lam Bishowab…   
Pelajaran Mengenai Tarawih – Syaikh Al Utsaimin






0 Response to "Shalat Tarawih Menurut Al-Quran dan Hadits"

Posting Komentar

Mohon berkomentar dengan bijak dan sesuai dengan isi konten, jangan memberikan link aktif, fasilitas yang tersedia ini tidak untuk dijadikan perdebatan / permusuhan.

Jika melanggar peraturan komentar akan saya hapus secara permanen!

cintaisunnah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel