Puasanya Orang Yang Sakit dan Musafir / Safar

Puasanya Orang Yang Sakit dan Musafir / Safar
PUASA SAAT SAKIT DAN MUSAFIR


Segala Puji milik    atas segala karunianya, apa yang dilangit dan dibumi semua itu miliknya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak dimasa lalu, masa ini dan masa yang akan datang. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah atas Nabi kita Rasulullah Muhammad     beserta keluarganya dan para sahabatnya, serta para pengikutnya semoga    memberikan kemuliaan yang agung atas jerih payahnya membela dan menegakkan agama ini dengan terpaan dan ujian yang begitu hebatnya sehingga kita dapat merasakan dan memahami serta mampu untuk mengamalkannya.


Pada kesempatan yang berbahagia ini, dipagi yang cerah ini, izinkanlah kami berbagi sedikit ilmu tentang puasa untuk melanjutkan pada pembahasan yang kemarin hukum, hikmah, dan manfaat puasa.

Dan kali ini kami akan sedikit membahas tentang Hukum Berpuasa Bagi Orang yang Sakit dan Musafir (Safar atau Dalam Perjalanan)

Kita mulai dengan Firman pada surat Al-Baqarah ayat 185 tentang suatu keadaan dimana menerangkan kedua pembahasan PuasaNya bagi Orang yang Sakit dan Musafir.

Puasa Nya Orang yang Sakit dan Musafir

Pada keterangan diatas, dapat di uraikan bahwa Orang yang sakit itu terdiri dari 2 jenis :

1.    Penyakit yang kemungkinan untuk sulit sembuhNya
Diuraikan bahwa : Barang siapa yang memiliki penyakit kronis, menahun, dan tidak ada kemungkinan untuk bisa sembuh (dalam waktu dekat), misalnya : penyakit kanker, ibu hamil yang lemas karena terdapatnya penyakit atau adanya janin dan kesehatan yang membahayakan bagi keduanya, maka keadaan orang ini tidak diwajibkan bagi dirinya untuk berpuasa. Hal ini karena apabila dia memaksa untuk tetap berpuasa maka dikhawatirkan dapat membahayakan jiwanya, karena dalam keadaan ini dia memiliki kondisi yang tidak mampu untuk melakukan (yakni berpuasa).

Namun demikian, untuk keadaanya maka baginya diharapkan dapat melengkapi perintah puasa itu dengan cara (fidyah) memberi makan fakir miskin sejumlah bilangan hari yang dia tinggalkan karena Sakit (Udzur syar’I yang dibolehkan).

Sebagimana yang dilakukan Anas bin Malik radiyallahu anhu, dengan cara mengumpulkan sejumlah orang miskin sesuai dengan hari yang ditinggalkannya dan memberi makan, atau dapat memberikan kepada orang fakir seperempat sha’, yakni beratnya sekitar kurang lebih setengah kilo 10 gram gandum yang baik. Dan akan lebih baik jika disajikan beserta lauk pauknya (daging atau lemak bersamanya) untuk melengkapi makanan tersebut. Keadaan yang sama juga berlaku terhadap orang tua yang tidak dapat berpuasa, maka harus memberi makan orang fakir miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya (1 hari yang ditinggalkannya memberi makan 1 orang fakir miskin).

2.  Penyakit yang Bisa sembuh
Diuraikan bahwa : penyakit temporer ini bagi mereka yang mengalaminya akan sembuh darinya. Misalnya : panas, batuk ringan, ataupun dapat kita istilahkan sebagai penyakit demam. Ataupun penyakit panu (sejenis penyakit kulit ringan).

Berpuasa tidak akan membahayakan bagi dirinya. Wajib baginya untuk melakukan puasa karena tidak adanya suatu alasan bagi dirinya untuk meninggalkan perintah puasa”.   




Musafir dapat di golongkan kedalam dua jenis :
1. Pertama : Seseorang / lebih yang sedang melakukan perjalanan sebagai cara untuk menghindari puasa. Maka hal ini tidak diperbolehkan karena dalam hal ia masih wajib untuk melakukan perintah puasa, sebagaimana kewajibannya.

2. Kedua : Seseorang / lebih yang sedang melakukan perjalanan tidak dengan niat diatas.
Dalam keterangan ini :
1.     Berpuasa sangat menyulitkan baginya.
Seseorang dalam keadaan ini, dilarang untuk berpuasa, karena ketika nabi sedang berpuasa dan sedang dalam keadaan melakukan ekpedisi militer untuk dapat menaklukkan kota Makkah, dikabarkan suatu berita bahwa orang-orang muslim sedang mengalami kesulitan untuk melakukan puasa. Kemudian nabi   meminta secangkir air setelah shalat azhar, dan saat itu sebagiannya masih berpuasa. Maka  nabi   bersabda : “Mereka orang-orang yang durhaka, merdekalah orang-orang yang durhaka”  (Shahih Muslim, Kitab Puasa. 1114)

2. Berpuasa yang menyulitkan baginya, tetapi tidak begitu menyengsarakan.
Seseorang dalam keadaan ini puasanya dihukumi Makruh, karena seseorang sedang menahan diri tidak makan dan tidak minum (berpuasa), dan baginya tidak mengingat kemudahan dari ﷲ  (ruksah), dan keadaan ini membebani dirinya.

3.   Berpuasa dan tidak menyulitkan baginya.
Seseorang dalam keadaan ini dapat memilih apakah berpuasa atau memilih baginya untuk tidak berpuasa.
Keadaan ini sesuai dengan firman ﷲ  :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah  menghendaki  kemudahan  bagimu,  dan  tidak  menghendaki  kesukaran  bagimu.” (QS Al-Baqarah [2] : 185)

Pada penjelasan ini, diambil dari makna cinta (yakni Dia mencintai kemudahan bagimu). Jika seseorang itu kuat tenaganya dan tidak membebankan baginya maka berpuasa lebih disukai.

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Darda radiyallahu anhu, beliau berkata : “Kami keluar bersama Nabi  ﷺ  pada bulan Ramadhan, dalam suatu kondisi udara yang sangat panas, sampai-sampai diantara kami meletakkan tangannya diatas kepalanya karena panasnya. Dan keadaan ini tidak ada yang berpuasa diantara kami kecuali Rasulullah     dan Abdullah bin Rawaha. (Shahih Muslim, Kitab Puasa .1122)     


Pemahaman yang dikatakan Musafir ini adalah seseorang yang melakukan perjalanan atau sedang bersafar, meskipun seseorang ini sedang berdiam disuatu tempat dalam waktu yang lama. Hal ini karena Nabi    tidak menjelaskan batasan dalam waktu itu, yang menentukan kapan seseorang dikatakan berakhirnya perjalanan (safar). Dalam perkara ini seseorang tetap dalam keadaan safar dan dihukumi sedang safar (perjalanan), sampai padanya terdapat suatu hukum-hukum yang menerangkan baginya safarnya telah berakhir dan safarnya dikatakan telah gugur.

Tidak terdapat perbedaan dalam unsur pembatal puasa ketika seseorang sedang melakukan suatu perjalanan antara safar dalam waktu yang terbatas, seperti dalam keadaan sedang Haji, Umrah, mengunjungi keluarga yang dalam keadaan safar terus menerus, seperti seorang supir kendaraan “supir taksi, atau jenis kendaraan yang lebih besar (Bus)”. Safar dikatakan seseorang supir ini keluar dari daerahnya atau negerinya, mereka dikatakan bahwa supir ini telah safar dan diperbolehkan untuk tidak berpuasa karena sedang dalam keadaan Musafir (seseorang yang sedang melakukan suatu perjalanan).   

Musafir atau safar (sedang dalam perjalanan) meninggalkan puasa lebih baik baginya dari pada berpuasa, jika dalam keadaan ini baik baginya. Mereka dapat mengganti puasanya pada hari-hari yang lain di luar Bulan Ramadhan dengan jumlah hari yang mereka tinggalkan saat sedang dalam safar, ataupun dapat mengganti puasanya pada musim dingin. Hal ini, pada dasarnya keadaan seorang supir jasa angkutan memiliki negerinya sendiri, sebagaimana yang dinisbatkannya. Maka ketika supir ini berada didalam negerinya, mereka dianggap sebagai warga yang bermukim dan apa saja yang berlaku bagi semua warga yang lain maka juga berlaku atas dirinya. Dan jika mereka dalam keadaan sedang bersafar, mereka dianggap sebagai musafir dan apa saja yang berlaku bagi seorang musafir juga berlaku bagi dirinya.


Allahu A’lam Bishowab…   
Pelajaran Mengenai Puasa – Syaikh Al Utsaimin





2 Responses to "Puasanya Orang Yang Sakit dan Musafir / Safar"

  1. Artikelnya sangat bermanfaat, akhirnya nambah pengetahuan saya

    ReplyDelete

Mohon berkomentar dengan bijak dan sesuai dengan isi konten, jangan memberikan link aktif, fasilitas yang tersedia ini tidak untuk dijadikan perdebatan / permusuhan.

Jika melanggar peraturan komentar akan saya hapus secara permanen!

cintaisunnah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel