Ayat Al-Quran Tentang Kewajiban Mengikuti Hukum ﷲ Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Diajaknya



Kewajiban Mengikuti Hukum Allah Swt
Menaruh kepercayaanmu hanya kepada  ﷲ


ﷲ  Ta'ala berfirman:

"Tetapi tidak, demi Tuhanmu. Mereka belum sebenarnya beriman sebelum mereka meminta keputusan kepadamu perkara-perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak menaruh keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang engkau berikan itu dan mereka menyerah dengan penyerahan yang bulat-bulat." (an-Nisa': 65)


ﷲ  Ta'ala berfirman pula:

"Bahwasanya ucapan kaum mu'minin, apabila mereka diseru kepada jalan Allah dan RasulNya untuk memberikan hukum di antara mereka itu iaiah mereka itu mengucapkan: "Kita semua mendengarkan dan mentaati." Mereka itu adalah orang-orang yang berbahagia." (an-Nur: 51)


Keterangan:
Islam mengajarkan tuntunan berbagai macam hukum-hukum dan peraturan yang begitu lengkap dalam setiap permasalahan, serta memuat dari berbagai hal sesuatu yang terkecil seperti cara berteman, sampai bagaimana cara membina rumah tangga yang bahagia dan lain-lain, sampai mengajarkan kepada kita bagaimana cara menegakkan hukum yang syar’i serta mendirikan suatu wilayah atau Negara sesuai hukum Islam.

Seorang muslim wajib mengamalkan dan meyakini hukum yang sudah tertulis apa yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits Rasulullah), serta taat akan hukum-hukum Allah SWT dan tidak menyimpang dari ajarannya, karena semua keadaan yang menyimpang dan menyelisihi hukum Allah maka kelak akan mendapatkan siksa yang teramat pedih.

Segala keadaan yang terjadi saat seseorang harus memutuskan dengan hukum Allah, maka alangkah baiknya kita dianjurkan untuk mengkaji terlebih dahulu pada Al-Quran dan Hadits Rasulullah, dan bertanya kepada Ahli Agama yang benar-benar memahami hukum-hukum Allah, serta memperbanyak ibadah dalam mengambil suatu keputusan tersebut agar suatu keputusan itu terdapat manfaat yang baik bagi kedua belah fihak jika dalam keadaan sedang bersengketa. Dan dalam hal ini syetan akan menjadi penghalang dengan meningkatkan kehendak atau hawa nafsu yang tentunya akan merusak keadaan kita dan lebih-lebih akan membawa kesengsaraan dan dosa yang teramat besar pada saat kita berhadapan dengan Allah Azza wa Jalla.


Ringkasnya dalam keadaan ini, jangan sampai kita dikalahkan dengan hawa nafsu yang datangnya dari syaitan, sehingga suatu keadaan itu dapat menjadi pemutus hubungan tali silaturrahim dan memperparah keadaan. Bahwa sebenarnya kita sebagai seorang muslim yang taat pada agama harus senantiasa meletakkan hukum agama diatas segala-galanya agar kita mendapatkan hidayah dari Allah Azza wa Jalla, seperti apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah kepada umatnya agar senantiasa tunduk pada ketentuan dan hukum-hukum islam.

Semoga kita diberikan kemudahan serta dituntun dan diberi hidayah oleh ﷲ sehingga hidup kita senantiasa berbahagia di dunia sampai di akhirat nanti. Aamiin…


Pada penjelasan ini terdapat beberapa keterangan datangnya dari Hadis Abu Hurairah
156. Pertama: Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu dari Rasulullah   bersabda: "Tinggalkanlah apa yang saya tinggalkan untukmu semua maksudnya: Jangan ditanyakan apa yang tidak saya terangkan kepadamu semua, karena hanyasanyayang menyebabkan kerusakan orang-orang / ummat yang sebelumnya itu ialah sebab banyaknya mereka bertanya-tanya yang tidak berfaedah lagi pula mereka suka menyalahi kepada Nabi-nabi mereka. Oleh sebab itu jikalau saya melarang padamu akan sesuatu hal, maka jauhilah itu dan jikalau saya memerintah padamu semua akan sesuatu perkara, maka lakukanlah itu sekuat usahamu." (Muttafaq 'alaih)


Faidah yang ada pada hadits diatas adalah : Sesuatu apapun yang menerangkan hal itu merupakan larangan, maka jangan sekali-kali hal itu dilakukan, akan tetapi jika sesuatu itu terdapat perintah, maka kerjakan sedapat yang engkau bisa kerjakan dan jangan merasa berputus asa untuk memperbaiki dan menyempurnakan suatu keadaan itu. Contoh : Ibadah Shalat diwaktu sakit. Jika tidak bisa berdiri, maka melakukannya dengan duduk, jika tidak bisa dengan duduk, boleh juga dengan berbaring, sampai keadaan itu dapat memudahkan kita meskipun hanya dengan melakukan isyarat memejamkan serta membuka mata untuk melakukan shalat itu dengan catatan ada udzur syar’i yang diperbolehkan.



  telah berfirman : "Allah tidak memaksakan pada keadaan hambanya melainkan sesuai dengan kadar kekuatan dan imannya."   


168. Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu katanya: "Ketika ayat ini turun pada Rasulullah s.a.w. yaitu-yang artinya: Bagi Allah adalah apa-apa yang ada di dalam langit dan apa yang ada di bumi. Jikalau engkau semua terangkan apa-apa yang dalam hatimu alau jikalau engkau semua sembunyikan itu, niscayalah Allah akanmemperhitungkan semuanya," sampai akhir ayat.

Dikala itu, maka hal yang sedemikian tadi dirasa amat berat oleh para sahabat Rasulullah  lalu Mereka  mendatangi Rasulullah, kemudian mereka berjongkok di atas lutut mereka lalu berkata: "Ya Rasulullah, kita telah dipaksakan untuk melakukan amalan-amalan yang kita semua juga kuat melaksanakannya yaitu shalat, puasa, jihad dan sedekah. Tetapi kini telah diturunkan kepada Tuan sebuah ayat dan kita rasanya tidak kuat melaksanakannya. Rasulullah  lalu bersabda: "Adakah engkau semua hendak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh dua golongan ahlul kitab kaum Nasrani dan Yahudi yang hidup sebelum kamu yaitu dengan ucapan : "Kita mendengar tetapi kita menyalahi". Tidak boleh sedemikian itu, tetapi ucapkanlah : "Kita mendengar dan kita mentaati". Kita memohonkan pengampunan padamu, ya    dan kepada-Mulah tempat kembali." 


Setelah beberapa sahabat - sahabat Rasulullah saw membaca itu, lagi pula lidah-lidah mereka telah tunduk tidak bisa bercakap sesuatu, lalu Allah Ta'ala menurunkan lagi sesudah itu ayat yang artinya: "Rasul itu mempercayai apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu pula orang - orang yang beriman. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat - malaikatNya, kitab - kitabNya, dan rasul - rasulNya. Mereka berkata: "Kita tidak membeda - bedakan seorangpun di antara rasul - rasul Allah itu." Mereka berkata lagi: "Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan dari padamu, ya Allah dan kepadamu tempat kembali."


Selanjutnya setelah mereka telah melaksanakan sebagaimana isi ayat di atas itu, lalu Allah 'Azza wajalla menurunkan lagi ayat  yang artinya: "Allah tidak melaksanakan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekedar kekuatannya belaka, bermanfaat untuknya apa-apa yang ia lakukan dan berbahaya pula atasnya apa-apa yang ia lakukan. Ya Allah, janganlah Engkau menghukum kita atas sesuatu yang kita lakukan karena kelupaan atau kekhilafan yang tidak disengaja."

Beliau saw bersabda: "Benar, kita telah melaksanakan". "Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada kita beban yang berat, sebagaimana yang telah Engkau pikulkan kepadaorang-orang yang terdahulu sebelum kita."

Beliau bersabda: "Benar." "Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada kita sesuatu yang kita tidak kuat melaksanakannya."
Beliau bersabda: "Benar."

"Dan berilah maaf dan pengampunan, belas kasihanlah kita. Engkau pelindung kita, maka tolonglah kita terhadap kaum kafirin itu." Beliau bersabda: "Benar." (Ayat di atas dari surat al-Baqarah 286). (Riwayat Muslim)


Riyadhus Salihin (buku 1) – Imam Nawawi

2 Responses to "Ayat Al-Quran Tentang Kewajiban Mengikuti Hukum ﷲ Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Diajaknya"

  1. Isi artikelnya sangat baik. Di sertai penjelasan dengan Al quran dan hadits. Terimakasih atas ilmunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barakallahu fiikum. Jazakumullah atas kunjungannya

      Delete

Mohon berkomentar dengan bijak dan sesuai dengan isi konten, jangan memberikan link aktif, fasilitas yang tersedia ini tidak untuk dijadikan perdebatan / permusuhan.

Jika melanggar peraturan komentar akan saya hapus secara permanen!

cintaisunnah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel