expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Thursday, May 24, 2018

Shalat Tarawih Menurut Al-Quran dan Hadits

Perintah Menjalankan Shalat




Alhamdulillah… 
Dengan selalu mengingat nama    kita senantiasa mampu bersyukur atas segala nikmat yang banyak, atas segala hidayah dari pertolongannya, atas segala rizky-Nya yang luas, yang telah       berikan kepada kita, semoga akhir hidup kita selalu istiqomah diatas jalanNya dan taat kepadaNya dalam menjalankan Agama Islam. Aamiin. Dan semoga tetap tercurah atas baginda Rasulullah     para keluargaNya, sahabatNya dan semua pengikutNya diatas Sunnah Rasulullah     . 

Hari yang cerah diawal bulan Ramadhan 1439 H. Di awal puasa ke delapan ini, semoga kita diberikan kekuatan untuk dapat menjalankan perintah    Rabbul Alamin. Dengan kita terus mempelajari Sunnah – sunnah Rasulullah    dengan penuh cinta, dengan penuh ketaatan untuk mengharapkan ampunan yang seluas – luasnya, dan pahala disisi    semoga dapat menjadikan timbangan kita kelak penuh kebaikan untuk mendapatkan Surga-Nya.  Aamiin Ya Rabbal Alamin…

Pada pertemuan ini, kita masih melanjutkan Bab Puasa, yaitu tentang “Shalat Tarawih sesuai Al-Quran dan Hadits”.

Tarawih memiliki pengertian upaya untuk mendirikan Shalat malam secara berjama’ah (bersama-sama) di bulan Ramadhan.  Dan waktu pelaksanaanya adalah selesai menjalankan shalat isya’ sampai tiba pada waktu mendekati fajar.

Rasulullah     menyuruh kita untuk menunaikan shalat ini, yaitu shalat Tarawih di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda-Nya :


Perintah mendirikan Shalat Malam di Bulan Ramadhan


Dalam hadits riwayat Shahih Imam Bukhari, dari jalur Aisyah, juga meriwayatkan bahwa : “Nabi   ﷺ   mendirikan shalat malam, pada suatu malam di masjid dan mengimami orang-orang shalat”. Dan pada hari esok kemudian, orang-orang berkumpul pada malam berikutnya semakin banyak. Dan pada suatu malam, yaitu pada malam ketiga dan malam keempat namun Rasulullah    ﷺ  tidak kunjung keluar untuk mengimami mereka. Dan pada keesokan harinya Rasulullah    ﷺ  berkata :


Hadits Shahih Mengenai Shalat Tarawih


Untuk anjuran melakukan shalat terawih ini Sunnahnya adalah membatasi shalat malam sebanyak sebelas raka’at (bilangannya), dan melakukan gerakan salam setiap mendapatkan dua raka’at. Hal ini, karena Aisyah radhiallahu anha waktu ditanyai mengenai bagaimana Rasulullah     melakukan shalat pada bulan Ramadhan, dan dia menjawab :


Hadits Shahih tentang jumlah bilangan Shalat malam

    
Di dalam suatu kitab yang bernama Muwatta, Muhammad bin Yusuf dan beliau adalah salah satu tsiqah, juga meriwayatkan dari Sa’id bin Yazid dan beliau adalah salah satu sahabat, bahwa Khalifah Umar radhiallahu anhu telah memberi perintah kepada sahabat Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk memulai dan memimpin orang-orang shalat sebelas raka’at di waktu itu.  15 (Muwatha Imam Malik. Kitab Shalat 1/110 “280”)



Dan apabila seseorang memilih untuk melakukan shalat malam melebihi bilangan sebelas raka’at, maka hal ini tidak mengapa karena Nabi       suatu ketika untuk ditanyai mengenai jumlah bilangan shalat malam, beliau menjawab :



Hadits Shahih tentang Shalat Malam



Dari penjelasan diatas, untuk menjaga dan melaksanakan perintah shalat malam ini, serta berpegang kepada jumlah (bilangan rakaat) yang disebutkan dalam Sunnah, jika seseorang sedang melaksanakan shalat malam ini, dengan perlahan dan memanjangkannya, yang terpenting tidak membebani orang-orang dalam melaksanakan shalat ini adalah lebih baik dan lebih sempurna. 


Dan biasanya kebanyakan dari kita seringnya melaksanakan perintah Shalat dalam keadaan tergesa-gesa dan ingin cepat selesai. Adapun dalam keadaan tegesa-gesa dalam Shalat itu adalah suatu perkara yang berlebih-lebihan, dan hal itu menyalahi dari apa yang telah ditentukan dalam syariat agama ini. Shalat yang dilakukannya akan meninggalkan salah satu dari beberapa kewajiban atau rukun / syarat sah-Nya Shalat, dengan hal ini dapat menjadikan Shalatnya seseorang menjadi batal.


Disebutkan dalam kitab ini, banyak dari kalangan para imam yang memimpin Shalat Jamah, kurang memanfaatkan waktu dalam memimpin shalat Tarawih, dan ini adalah suatu keadaan dari kekurangannya. Sebenarnya bahwa dirinya adalah disamping memimpin dirinya sendiri juga memimpin orang lain. Pemimpin disini ia di wajibkan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan paling sesuai dengan syariat. Para ulama telah menyatakan bahwa dibencinya seorang imam dikala ia melakukan shalat dalam keadaan tergesa-gesa, sampai dimana keadaan orang-orang mengikutinya dalam shalat tidak dapat melakukan gerakan wajib yang seharusnya dapat dilakukannya.


Seseorang harus menjaga dalam mendirikan Shalat Tarawih dan tidak menyia-nyiakannya, karena telah disampaikan bahwa barangsiapa yang melaksanakan shalat malam (isya ataupun tarawih) bersama imam sampai selesai, sesungguhnya dirinya telah dianggap melakukan shalat semalam suntup meskipun setelahnya seseorang itu tidur selesai melaksanakan shalat.


Sedangkan bagi wanita,  tidak mengapa dirinya menghadiri shalat (tarawih) jika seseorang itu dapat menjaga dirinya dari fitnah, dan disyariatkan dirinya untuk menutup hijabnya saat mulai keluar dari rumahnya dalam perjalanan menuju ke tempat ibadah (masjid), dan tidak diperkenankan menampakkan sedikitpun perhiasan yang ia pakai, dan lebih-lebih tidak diperbolehkannya memakai wewangian atau parfum yang dapat menjadikan kaum lelaki dapat meningkatkan syahwatnya, karena hal ini jelas-jelas dilarang oleh syariat islam.




Allahu A’lam Bishowab…   
Pelajaran Mengenai Tarawih – Syaikh Al Utsaimin






Friday, May 18, 2018

Hal – hal yang Membatalkan Puasa Menurut Al-Quran dan Hadits


Pembatal Puasa





Dengan menyebut nama   atas segala kebesaran dan keagungannya, kepada-Nya kami memuji, selalu meminta pertolongan dan ampunan hanya pada-Nya, kami berlindung kepada    dari segala kejahatan jiwa, serta atas segala keburukan tingkah laku kami. Sesungguhnya barangsiapa yang diberi pertolongan oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat menyesatkanya, sedikitpun tidak ada yang bisa menandingi kebesaran dan keagungan-Nya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada satupun yang dapat menolongnya. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain    dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Rasulullah    itu adalah utusan dan hamba  Amma Ba’du.


Sebagai permulaan dari Mukaddimah ini, penulis ingin mengawali satu firman     Azza wa Jalla, pada Surah Ali Imran ayat 102, yang merangkan bahwa    menyeru pada umatnya (Orang yang beriman) yang meyakini atas kebesaran dan keagungan-Nya, bahwa sesungguhnya kita semua disuruh untuk bertakwa kepadanya dengan sebenar benarnya Takwa kepada   , dan sesungguhnya kita semua dilarang mati dalam keadaan tidak beriman kepada    dan    Rasulullah, kecuali kita sekalian dalam keadaan beragama islam.





Pada pembahasan ini, kita masih melanjutkan pembahasan tentang Bab Puasa. Dan insya Allah isi materi kita pada kesempatan ini yaitu belajar bersama tentang Hal – hal apa sajakah yang dikatakan sebagai pembatal puasa itu.


1. Jima’ (hubungan badan atau bersenggama dengan istrinya)
Keadaan ini jelas dilarang oleh    karena kegiatan ini jelas-jelas akan membatalkan puasa kita, terlebih lagi melakukan aktifitas ini pada siang hari di bulan Ramadhan.

Maka, ketika seseorang berpuasa dan melakukan Jima’, maka hukum puasanya adalah batal.

Apalagi hal ini dilakukan di siang hari Ramadhan. Seseorang yang melakukan aktifitas ini dihukumi oleh    baginya untuk berkewajiban membayar “kafarat” berpuasa selama dua bulan (2 bulan) setelah Ramadhan berturut – turut tanpa ada 1hari pun tidak berpuasa. Jika terdapat sehari dia tidak berpuasa, maka baginya harus mengulang puasa dari awal lagi selama 2 bulan (sekitar 60 hari).

Adapun jika tidak sanggup, maka baginya harus membebaskan 1 orang budak selama 2 bulan (memberi makan sebanyak 60 fakir miskin). Namun demikian, jika berpuasa tidak wajib baginya, seperti seseorang yang sedang bersafar (menempuh suatu perjalanan) dan dia berjima’ dengan istrinya ketika sedang berpuasa, dia harus mengganti puasanya (Menqodho puasa diluar bulan Ramadhan untuk mengganti puasa yang dia tinggalkan) dan tidak wajib membayar kafarat tersebut.    


2.  Keluarnya Mani
Keadaan ini bisa saja terjadi pada diri seseorang ketika sedang bercumbu, berciuman, berpelukan mesra dengan istrinya. Akan tetapi jika seseorang mencium istrinya dan tidak mengeluarkan mani, karena mampu menjaga syahwatnya maka keadaan ini tidak membatalkan puasanya.


3.  Makan dan Minum
Zat makanan dan minuman ketika memasuki kedalam tubuhnya pada seseorang yang sedang melakukan puasa, maka hukum puasanya adalah batal. Bisa saja terjadi pada perantara jalan dari mulut atau hidung, tergantung apa yang dimakan dan diminumnya. Tidak bolehnya seseorang puasa tetapi dia sedang menghisap rokok (bukhoor) karena asap dan perantara rokok ini akan memasuki tubuhnya, karena asap adalah zat. Namun beda dengan suatu keadaan seseorang yang mencium wewangian dan parfum, maka baginya tidak mengapa.


4.  Apapun yang menyerupai makan dan minum
Mungkin dapat dicontohkan adalah infus dan suplemen makanan ataupun vitamin untuk menguatkan tubuhnya agar tidak lemas, yang kesemua itu adalah berfungsi sebagai makanan ataupun minuman tambahan. Namun untuk suntikan yang tidak tergolong zat atau bahan makanan, insya Allah tidak membatalkan puasa seseorang, tanpa memandang apakah  yang sedang dimasukkan kedalam tubuhnya baik itu melalui pembuluh darah ataupun urat/otot.


5.  Mengeluarkan darah karena sedang melakukan Hijamah (pengobatan Bekam)
Menurut Qiyas, segala apapun yang bentuknya keluarnya darah dikarenakan dengan unsur sengaja, yang mempengaruhi keadaan tubuh seseorang seperti saat sedang melakukan Bekam, maka hokum puasanya adalah Batal.

Adapun jika keluarnya  darah adalah sebagian kecil dan sangat sedikit sekali karena atas pemeriksaan dokter dalam arti ini dilakukan suntik untuk pengobatan bagi kesehatannya, maka baginya puasa yang dia lakukan tidak batal. Karena dalam keadaan ini, tidak mempengaruhi tubuh dengan melemahkan (kondisi) seperti pada aktifitas bekam pada umumnya.  


6.  Muntah - muntah
Keadaan ini sangat dilarang, apalagi dengan unsur kesengajaan. Bisa saja seseorang memaksa memuntahkan makanan dan minuman dari perutnya dengan cara memasukkan sesuatu kedalam mulutnya. Jelas hukum puasanya adalah Batal.

7. Keluarnya darah yang ditimbulkan dari seseorang saat sedang mengalami Menstruasi dan Nifas maka seseorang ini tidak diperkenankan baginya untuk berpuasa.


Dari penjelasan diatas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa :
Orang yang berpuasa tidak batal puasanya karena adanya sebab-sebab diatas kecuali baginya terlebih dahulu menemui tiga keadaan.
1. Dia harus mengetahui hukumnya dan kapan suatu hukum itu berlaku atas dirinya.
2. Dia harus dalam keadaan sadar (tidak sedang lupa karena adanya unsur kealpaan)
3.  Dia melakukan dengan keadaan punya niat serta keinginan.


Seseorang yang sedang Bekam dan tidak menyadari hokum bekam dapat membatalkan puasa, maka hokum puasanya tetap sah, karena keadaan seseorang itu tidak mengetahui hukumnya.


Landasan hukum berdasarkan Al-Quran dan hadits




Keadaan puasanya seseorang saat sedang Bekam

Keadaan puasanya seseorang saat sedang Lupa



Berdasarkan Hadits Shahih, Puasanya Seseorang yang Sedang Lupa




Allahu A’lam Bishowab…   

Pelajaran Mengenai Puasa – Syaikh Al Utsaimin

Wednesday, May 16, 2018

Puasanya Orang Yang Sakit dan Musafir / Safar





Segala puji milik atas segala karunianya, apa yang dilangit dan dibumi semua itu adalah miliknya, baik yang nampak maupun yang tidak tampak dimasa lalu, masa ini dan masa yang akan datang. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah atas nabi kita Rasulullah Muhammad   beserta keluarganya dan para sahabatNya, serta para pengikutnya semoga memberikan kemulian yang agung atas jerih payahnya membela dan menegakkan agama ini dengan terpaan dan ujian yang begitu hebatnya sehingga kita dapat merasakan dan memahami serta mampu untuk mengamalkanNya.   

Pada kesempatan yang berbahagia ini, dipagi yang cerah ini, izinkanlah kami berbagi sedikit ilmu tentang puasa untuk melanjutkan pada pembahasan yang kemarin hukum, hikmah, dan manfaat puasa.

Dan kali ini kami akan sedikit membahas tentang Hukum Berpuasa Bagi Orang yang Sakit dan Musafir (Safar atau Dalam Perjalanan)

Kita mulai dengan Firman pada surat Al-Baqarah ayat 185 tentang suatu keadaan dimana menerangkan kedua pembahasan PuasaNya bagi Orang yang Sakit dan Musafir.

Puasa Nya Orang yang Sakit dan Musafir

Pada keterangan diatas, dapat di uraikan bahwa Orang yang sakit itu terdiri dari 2 jenis :

1.    Penyakit yang kemungkinan untuk sulit sembuhNya
Diuraikan bahwa : Barang siapa yang memiliki penyakit kronis, menahun, dan tidak ada kemungkinan untuk bisa sembuh (dalam waktu dekat), misalnya : penyakit kanker, ibu hamil yang lemas karena terdapatnya penyakit atau adanya janin dan kesehatan yang membahayakan bagi keduanya, maka keadaan orang ini tidak diwajibkan bagi dirinya untuk berpuasa. Hal ini karena apabila dia memaksa untuk tetap berpuasa maka dikhawatirkan dapat membahayakan jiwanya, karena dalam keadaan ini dia memiliki kondisi yang tidak mampu untuk melakukan (yakni berpuasa).

Namun demikian, untuk keadaanya maka baginya diharapkan dapat melengkapi perintah puasa itu dengan cara (fidyah) memberi makan fakir miskin sejumlah bilangan hari yang dia tinggalkan karena Sakit (Udzur syar’I yang dibolehkan).

Sebagimana yang dilakukan Anas bin Malik radiyallahu anhu, dengan cara mengumpulkan sejumlah orang miskin sesuai dengan hari yang ditinggalkannya dan memberi makan, atau dapat memberikan kepada orang fakir seperempat sha’, yakni beratnya sekitar kurang lebih setengah kilo 10 gram gandum yang baik. Dan akan lebih baik jika disajikan beserta lauk pauknya (daging atau lemak bersamanya) untuk melengkapi makanan tersebut. Keadaan yang sama juga berlaku terhadap orang tua yang tidak dapat berpuasa, maka harus memberi makan orang fakir miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya (1 hari yang ditinggalkannya memberi makan 1 orang fakir miskin).

2.  Penyakit yang Bisa sembuh
Diuraikan bahwa : penyakit temporer ini bagi mereka yang mengalaminya akan sembuh darinya. Misalnya : panas, batuk ringan, ataupun dapat kita istilahkan sebagai penyakit demam. Ataupun penyakit panu (sejenis penyakit kulit ringan).

Berpuasa tidak akan membahayakan bagi dirinya. Wajib baginya untuk melakukan puasa karena tidak adanya suatu alasan bagi dirinya untuk meninggalkan perintah puasa”.   




Musafir dapat di golongkan kedalam dua jenis :
1. Pertama : Seseorang / lebih yang sedang melakukan perjalanan sebagai cara untuk menghindari puasa. Maka hal ini tidak diperbolehkan karena dalam hal ia masih wajib untuk melakukan perintah puasa, sebagaimana kewajibannya.

2. Kedua : Seseorang / lebih yang sedang melakukan perjalanan tidak dengan niat diatas.
Dalam keterangan ini :
1.     Berpuasa sangat menyulitkan baginya.
Seseorang dalam keadaan ini, dilarang untuk berpuasa, karena ketika nabi sedang berpuasa dan sedang dalam keadaan melakukan ekpedisi militer untuk dapat menaklukkan kota Makkah, dikabarkan suatu berita bahwa orang-orang muslim sedang mengalami kesulitan untuk melakukan puasa. Kemudian nabi   meminta secangkir air setelah shalat azhar, dan saat itu sebagiannya masih berpuasa. Maka  nabi   bersabda : “Mereka orang-orang yang durhaka, merdekalah orang-orang yang durhaka”  (Shahih Muslim, Kitab Puasa. 1114)

2. Berpuasa yang menyulitkan baginya, tetapi tidak begitu menyengsarakan.
Seseorang dalam keadaan ini puasanya dihukumi Makruh, karena seseorang sedang menahan diri tidak makan dan tidak minum (berpuasa), dan baginya tidak mengingat kemudahan dari ﷲ  (ruksah), dan keadaan ini membebani dirinya.

3.   Berpuasa dan tidak menyulitkan baginya.
Seseorang dalam keadaan ini dapat memilih apakah berpuasa atau memilih baginya untuk tidak berpuasa.
Keadaan ini sesuai dengan firman ﷲ  :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah  menghendaki  kemudahan  bagimu,  dan  tidak  menghendaki  kesukaran  bagimu.” (QS Al-Baqarah [2] : 185)

Pada penjelasan ini, diambil dari makna cinta (yakni Dia mencintai kemudahan bagimu). Jika seseorang itu kuat tenaganya dan tidak membebankan baginya maka berpuasa lebih disukai.

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Darda radiyallahu anhu, beliau berkata : “Kami keluar bersama Nabi  ﷺ  pada bulan Ramadhan, dalam suatu kondisi udara yang sangat panas, sampai-sampai diantara kami meletakkan tangannya diatas kepalanya karena panasnya. Dan keadaan ini tidak ada yang berpuasa diantara kami kecuali Rasulullah     dan Abdullah bin Rawaha. (Shahih Muslim, Kitab Puasa .1122)     


Pemahaman yang dikatakan Musafir ini adalah seseorang yang melakukan perjalanan atau sedang bersafar, meskipun seseorang ini sedang berdiam disuatu tempat dalam waktu yang lama. Hal ini karena Nabi    tidak menjelaskan batasan dalam waktu itu, yang menentukan kapan seseorang dikatakan berakhirnya perjalanan (safar). Dalam perkara ini seseorang tetap dalam keadaan safar dan dihukumi sedang safar (perjalanan), sampai padanya terdapat suatu hukum-hukum yang menerangkan baginya safarnya telah berakhir dan safarnya dikatakan telah gugur.

Tidak terdapat perbedaan dalam unsur pembatal puasa ketika seseorang sedang melakukan suatu perjalanan antara safar dalam waktu yang terbatas, seperti dalam keadaan sedang Haji, Umrah, mengunjungi keluarga yang dalam keadaan safar terus menerus, seperti seorang supir kendaraan “supir taksi, atau jenis kendaraan yang lebih besar (Bus)”. Safar dikatakan seseorang supir ini keluar dari daerahnya atau negerinya, mereka dikatakan bahwa supir ini telah safar dan diperbolehkan untuk tidak berpuasa karena sedang dalam keadaan Musafir (seseorang yang sedang melakukan suatu perjalanan).   

Musafir atau safar (sedang dalam perjalanan) meninggalkan puasa lebih baik baginya dari pada berpuasa, jika dalam keadaan ini baik baginya. Mereka dapat mengganti puasanya pada hari-hari yang lain di luar Bulan Ramadhan dengan jumlah hari yang mereka tinggalkan saat sedang dalam safar, ataupun dapat mengganti puasanya pada musim dingin. Hal ini, pada dasarnya keadaan seorang supir jasa angkutan memiliki negerinya sendiri, sebagaimana yang dinisbatkannya. Maka ketika supir ini berada didalam negerinya, mereka dianggap sebagai warga yang bermukim dan apa saja yang berlaku bagi semua warga yang lain maka juga berlaku atas dirinya. Dan jika mereka dalam keadaan sedang bersafar, mereka dianggap sebagai musafir dan apa saja yang berlaku bagi seorang musafir juga berlaku bagi dirinya.


Allahu A’lam Bishowab…   
Pelajaran Mengenai Puasa – Syaikh Al Utsaimin





Saturday, May 12, 2018

Kembali Pada Ajaran ﷲ



Sumber : shiasky.com

بسم الله الرّحمن الرّحيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ



Segala puji bagi  atas segala nikmatnya, baik yang nampak maupun yang tersembunyi di masa lalu dan saat ini. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi-Nya dan Rosul-Nya,  ﷴ  beserta para Sahabatnya yang menolong agama ini (islam) dengan usaha yang sungguh-sungguh serta orang-orang yang mengikuti mereka, yang mewarisi ilmu mereka dan ulama itu pewaris para Nabi. Muliakanlah para ulama tersebut sebagai pewaris dan yang diwarisi.

Pada kesempatan kali ini merupakan nikmat ﷲ yang sangat besar terutama bagi para pembaca yang ingin berkumpul, bersama-sama mempelajari agama dan mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ. Kita semua sepatutnya memanjatkan syukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh ﷲ sehingga kita bisa berada dan hidup ditengah-tengah suatu keadaan yang masih mengenal agama ini dengan sebaik-baiknya. Ini adalah salah satu hidayah yang diberikan bagi umatnya untuk senantiasa taat dan patuh akan perintahnya serta menjauhi segala apa yang dilarangnya.   
  

  

Sumber : straightpathtorecovery.com


ﷲ sungguh telah memenangkan agama ini melalui tangan (usaha) para sahabat Nabi ﷺ yang mulia dengan penuh keikhlasan. Mereka membuka hati manusia dengan ilmu, petunjuk dan keimanan, mereka membuka benteng-benteng dan negeri dengan pedang kebenaran, dan mereka menolong agama Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala usaha yang mereka miliki, dengan setiap apa yang mereka sanggupi, baik dengan mengorbankan harta dan jiwa. Mereka adalah orang yang mengimplementasikan kehendak ﷲ terhadap agama ini, serta mereka adalah orang yang memuliakan dan memenangkan agama ini di atas seluruh agama lainnya. Karena agama ini tegak di atas petunjuk dan ilmu, tidak tegak di atas hawa nafsu, kebodohan, kedunguan dan kekacauan yang saat ini melanda banyak negeri. yang bersumber dari orang-orang yang tidak menegakkan dakwah mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, namun menegakkan dakwah mereka di atas hawa nafsu kecuali yang Allah Tabaroka wa Ta’ala selamatkan    


Dilansir dari Buku Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir, Allah Azza wa Jalla berfirman pada surat Al – Imran ayat 18-20, pada ayat yang cukup panjang di dalam Al-Quran :

{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19) فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالأمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (20) }

Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, "Apakah kalian (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

memberikan pernyataan-Nya, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Dia adalah saksi Yang Maha benar lagi Maha adil, dan Maha benar firman-Nya.

أَنَّهُ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ


Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia. (Ali Imran: 18)
Artinya, hanya Dialah Tuhan semua makhluk, dan bahwa semua makhluk  adalah hamba-hamba-Nya  dan  merupakan  ciptaan-Nya, semua makhluk berhajat kepada-Nya, sedangkan Dia Mahakaya terhadap semuanya.


Dan pada penghujung ayat ke 18 surat Al Imran



لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ


Tidak ada Tuhan melainkan Dia. (Ali Imran: 18)



Kalimat ayat ini berkedudukan sebagai taukid atau yang mengukuhkan kalimat sebelumnya.

الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Ali Imran: 18)


Al-Aziz Yang Maha perkasa, Yang keagungan dan kebesaran-Nya tidak dapat dibatasi, lagi Mahabijaksana dalam semua ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya.


قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، حَدَّثَنَا بَقِيَّة بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي جُبَيْرُ بْنُ عَمْرو الْقُرَشِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيد الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِي يَحْيَى مَوْلَى آلِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بعرفةَ يَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ: {شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} "وأَنَا عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ يَا رَبِّ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdu Rabbih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepadaku Jubair ibnu Amr Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Ansari, dari Abu Yahya maula keluarga Az-Zubair ibnul Awwam, dari Az-Zubair ibnul Awwam yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ. di Arafah membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: ﷲ menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Ali Imran: 18); Sesudah itu beliau Rasulullah ﷺ. mengucapkan: Dan aku termasuk salah seorang yang mempersaksikan hal tersebut, ya Tuhanku.

Dan pada awal ayat ke 19 surat Al Imran, Allah Azza wa Jalla berfirman :


إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ


Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 19)


Sebagai berita dari ﷲ. yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para rasul yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla. di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad ﷺ. yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditempuhnya. Karena itu, barang siapa yang menghadap kepada ﷲ sesudah Nabi Muhammad ﷺ. diutus dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh ﷲ. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:


وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ



Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85), hingga akhir ayat. 


Sumber : readlittlemuslims.com

Semoga kita semua selalu mendapatkan hidayah dan inayahnya, sehingga kita selalu berpegang teguh pada ajaran yang benar menurut Allah Azza wa Jalla. 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ




Allahu A’lam Bishowab…